Transformasi Pola Pikir

Transformasi Pola Pikir

Pekan lalu saya mengikuti webinar yang diselenggarakan oleh rekan-rekan dari Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN). Temanya sungguh menarik. Yaitu tentang mental health awareness. Topik spesifik yang diulas mengenai Mindset Transformation For A Better Workplace Mental Health. Dibawakan begitu apik oleh narasumber yang kompeten di bidangnya. Tulisan ini terbit sebagai upaya untuk berbagi hal-hal baik. Semoga bermanfaat.

Workplace Mental Condition

Sekitar 60% populasi penduduk dunia adalah pekerja. 61% dari seluruh pekerja berada di sektor ekonomi informal. Pada tahun 2019 prevalensi pekerja usia dewasa yang memiliki mental disorder berada di angka 15%. Sejumlah 301 juta orang hidup dengan kecemasan. 280 juta orang hidup dengan depresi. Yang tak kalah miris, 730 ribu orang dead by suicide.   

Dampak dari mental illness (kebalikan dari mental health) adalah meningkatnya biaya sosial sebesar 50% sebagai penghambat produktivitas. Ekonomi global menanggung kerugian sejumlah 1 Trilyun US Dolar atas hilangnya produktivitas. Akumulasi 12 milyar hari kerja (working days) hilang tiap tahun akibat pekerja yang berkondisi cemas dan depresi.  

Tao dkk (2022) menemukan bahwa orang yang rentan terhadap masalah kesehatan mental adalah mereka yang memiliki pola pikir (mindset) tertentu.

Mindset: Which One Am I ?

Dalam dunia psikologi terdapat istilah Fix Mindset (FM) dan Growth Mindset (GM). FM adalah pola pikir yang memandang kemampuan seseorang sebagai sesuatu yang tetap. GM adalah pola pikir yang memandang kemampuan seseorang sebagai sesuatu yang dapat berkembang seiring waktu dan pengalaman hidup.

Ciri-ciri FM antara lain:

  • Memandang kemampuan diri sebagai sesuatu yang tetap dan tidak banyak bisa diubah.
  • Penyuka zona nyaman, oleh karena itu menghindari tantangan dan risiko.
  • Menghindari kegagalan, karena orang akan menganggapnya bodoh / tidak mampu.
  • Usaha adalah untuk orang yang kekurangan.
  • Merasa terancam dengan kesuksesan orang lain.

Ciri-ciri GM antara lain:

  • Memandang kemampuan diri sebagai sesuatu yang bisa dikembangkan seiring waktu.
  • Menganggap tantangan dan risiko sebagai kesempatan untuk belajar hal-hal baru.
  • Melihat kegagalan sebagai hal biasa dalam proses pengembangan diri.
  • Mustahil ada pencapaian tanpa usaha.
  • Terinspirasi oleh kesuksesan orang lain dan melihatnya sebagai sumber motivasi.

Sangat mudah untuk tahu mana yang lebih baik diantara dua mindset tersebut. Tetapi harus diingat bahwa mindset adalah hal abstrak berupa keyakinan (belief). Untuk meraih tujuan, kita butuh tindakan, aksi, bukan sekedar pola pikir doang. Simply believing we can grow, is not the same as achieving growth.

Dalam sesi diskusi webinar terungkap bahwa memiliki GM di tempat kerja tidak selamanya berdampak positif. Seorang peserta mengungkapkan bahwa rekannya yang suka belajar hal-hal baru, justru sering disuruh menyelesaikan pekerjaan tambahan oleh atasannya. Pekerjaan orang lain yang mandek, dia juga yang disuruh pimpinan untuk membereskan. Berkali-kali “terpilih” jadi petugas upacara. Lama-lama dia gak kuat. Lelah fisik dan mental. Jadinya malah sering ijin karena sakit.  

Fix Mindset vs Growth Mindset

Sebuah mitos yang terlanjur beredar luas tentang mindset adalah bahwa hanya ada dua tipe: FM dan GM. Ini pemahaman yang keliru. Kenyataannya adalah bahwa pola pikir kita terletak di suatu titik di sepanjang Rangkaian Pola Pikir (Mindset Continuum).

Psikolog dan peneliti dari Universitas Stanford, Carol Dweck, membuat definisi tentang FM dan GM sebagai cara menjelaskan dua kutub ekstrem tersebut. Sepanjang penelitian dia menyadari bahwa manusia berada dalam sebuah kontinuum. Kita tidak bisa langsung berada di area growth mindset. kemajuan positif menuju GM bertumbuh secara bertahap. Tentunya ini memerlukan usaha mandiri tiap individu dan dukungan lingkungan sekitarnya.

GM bukanlah sekedar deklarasi atau pernyataan, melainkan sebuah perjalanan perubahan progresif dalam pemikiran, bukan tiba-tiba ada lompatan besar.

Hal lain yang terungkap dari penelitian Dweck adalah,” tidak ada orang yang memiliki GM dalam segala hal sepanjang waktu. Setiap orang adalah campuran dari FM dan GM. Anda bisa saja memiliki GM dominan di banyak area, tapi tentu ada area yg memicu anda menjadi bersifat FM”.

Menurut pakar mindset trainer James Anderson, rangkaian pola pikir atau Mindset Continuum adalah sebagai berikut: FIXED – LOW GROWTH – MIXED – GROWTH – HIGH GROWTH.

Dibawah ini contoh transformasi pola pikir:

The Mindset Continuum

 

FIXED

LOW GROWTH

MIXED

GROWTH

HIGH GROWTH

 

Challenges

Avoids challenges. Sees them as a potential threat.

Takes on easy challenges that they believe they are likely to succeed at.

Prefers clear, immediate goals that aren't too far out of reach, or in an area they find difficult.

Enjoys being challenged by more open-ended tasks, even if not always succesful.

Embraces challenges even when path to achievement is not immediately clear.

 

Difficulty & Obstacles

Gives up immediately.

Tries for a while.

Persists when seeing progress.

Expect eventual mastery.

Persists for long periods.

 

Effort

Effort is associated with failure.

Sustained effort is a bad thing.

Effort is necessary, but usually not enjoyable.

Effort is  a good thing.

Understands effort as path to mastery.

 

 

Apa yang bisa dilakukan ?

Dalam rangka suksesnya transformasi pola pikir untuk kesehatan mental di tempat kerja, beberapa hal dapat dilakukan oleh pemerintah/regulator, manajemen perusahaan, dan individu/karyawan yaitu:

Pemerintah:

  • Memastikan tersedianya jenis pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan fisik dan mental pekerja.
  • Mendahulukan tindakan preventif daripada tindakan reaktif.
  • Menerbitkan panduan umum dalam mengelola risiko psikososial.
  • Memperkuat kepastian pekerjaan dan pendapatan pekerja yang mengalami masalah kesehatan mental.
  • Mengikutsertakan perwakilan pekerja dalam mengidentifikasi jenis-jenis bahaya psikososial.

Manajemen perusahaan:

  • Memiliki peraturan yang ditujukan untuk mengatasi risiko psikososial sebagai dampak kegiatan operasional seperti restrukturisasi, mutasi, perubahan metode kerja, dll. 
  • Mengadakan pelatihan tingkat pimpinan maupun karyawan dalam rangka peningkatan literasi dan kepedulian kesehatan mental.
  • Mensosialisasikan perilaku “help-seeking behaviour”.
  • Mendorong karyawan memahami pola pikir positif dalam bekerja.

Individu:

  • Cintai kegiatan belajar
  • Menyadari ketidaksempurnaan
  • Kegagalan tidak menurunkan kecerdasan
  • Tantangan adalah jalan ninjaku
  • Buat rencana

--*--

Sumber:

Makalah Webinar: Mindset Transformation For A Better Workplace Mental Health,

Tesa Nurul Huda, S.Psi., MA. / DJKN / 28072023

Artikel Terkait: